Logo SantriDigital

3 pelajaran dari haji dan berqurban

Khutbah Jumat
A
Ahmad khotib
4 Mei 2026 5 menit baca 2 views

الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَ...

الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. Saudaraku seiman, hadirin sekalian yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta'ala. Mari kita hayati panggilan Allah yang agung, yang menyeru kita untuk senantiasa bertakwa kepada-Nya. Takwa, itu kunci kemenangan. Takwa, itu benteng dari segala keburukan. "Maka barangsiapa berat timbangan kebaikannya, mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. Al-Mu'minun: 102). Di setiap hembusan nafas kita, di setiap detak jantung kita, mari kita perbaharui tekad untuk menjadikan Allah sebagai pusat segalanya. Dalam momen yang mulia ini, saat kita teringat akan syiar Islam yang agung, yaitu Haji dan Qurban, mari kita tarik tiga pelajaran berharga yang tak ternilai, yang mampu membakar semangat kita untuk kembali kepada Allah dengan hati yang merindu. Pertama, Pelajarilah Ketundukan yang Meluluhlantakkan Hati kepada Perintah Allah. Haji bukan sekadar ritual kosong, ia adalah gambaran nyata dari kepasrahan total seorang hamba kepada Sang Pencipta. Bayangkan, Nabi Ibrahim Alaihissalam, di usia senjanya, diperintahkan Allah untuk menyembelih putra kesayangannya, Ismail Alaihissalam. Sebuah perintah yang seolah memusnahkan harapan dan keturunannya. Namun apa jawab Nabi Ibrahim? Beliau tidak berdebat, tidak mengeluh, hanya berkata: "Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah apa pendapatmu?" Dan jawaban Ismail yang menyentuh kalbu itu membahana: "Wahai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; kelak kamu akan mendapati aku termasuk orang-orang yang sabar." (QS. Ash-Shaffat: 102). Ternyata, Ismail pun menjawab: "Hai bapakku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu wahai bapakku, Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar" (QS. Ash-Shaffat: 102). Sungguh, keimanan yang membara, ketundukan yang total! Dari sini kita belajar, seberat apapun perintah Allah, sedalam apapun ujian yang datang, keimanan sejati menuntut kita untuk berkata: *Samina wa atho'na* – kami mendengar dan kami taat. Apakah kita sudah siap tunduk sepenuhnya? Saat Allah memanggil kita untuk shalat, apakah kita segera merespon? Saat Allah menyuruh kita berinfak, apakah hati kita rela mengeluarkan harta? Saat Allah melarang kita dari sesuatu, apakah kita segera menjauh dengan penuh rasa takut? Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah... Kedua, Giatkan Semangat Pengorbanan yang Mengikis Sifat Egois. Qurban, menyembelih hewan, sejatinya adalah simbol pengorbanan yang lebih besar dari diri kita. Pengorbanan harta, waktu, potensi, bahkan perasaan demi meraih ridha Allah. Allah Ta'ala berfirman: "Daging unta dan darahnya sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi yang dapat mencapai keridhaan-Nya adalah takwa kamu. Begitulah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-Hajj: 37). Poin terpentingnya bukan pada daging atau darah yang mengalir, melainkan pada ketakwaan yang terpendam di dalam kalbu. Apakah kita mau berkorban untuk kebaikan sesama? Mengorbankan sedikit harta kita untuk mereka yang kelaparan? Mengorbankan sedikit waktu kita untuk menolong yang lemah? Mengorbankan hawa nafsu kita untuk taat kepada Allah? Ingatlah, setiap tetes darah hewan qurban yang jatuh ke bumi, bersamanya terangkat pula doa-doa kita, mengikis sedikit demi sedikit kerak kerak kesombongan dan keegoisan dalam jiwa kita. Jiwa yang hanya memikirkan diri sendiri, lupakanlah! Mari kita lebarkan dada ini untuk berkorban, meniru jejak pengorbanan para nabi dan para syuhada. Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah... Ketiga, Tumbuhkan Rindu yang Membakar untuk Bertemu Allah dan Meraih Surga-Nya. Haji adalah perjalanan spiritual yang menuntun kita merenungi akhir perjalanan kita. Berdiri di Arafah, di Padang Mahsyar kelak, kita akan dikumpulkan. Mengenakan pakaian ihram yang sama, tanpa memandang status, tanpa pandang bulu, semua adalah hamba Allah. Ini mengingatkan kita bahwa kekayaan dunia, kekuasaan, dan segala atribut kebesaran kita akan tertinggal di sini. Yang tersisa hanyalah amal shalih kita. Di musim haji tahun ini, jutaan umat Islam meratap memohon ampunan, merindu rahmat Allah, seolah membayangkan pertemuan akhir dengan Sang Khaliq. Allah Ta'ala berfirman, menggambarkan surga yang penuh kenikmatan: "Dan untuk itulah hendaknya orang beramal bekerja." (QS. As-Saffat: 61). Ini seruan yang menggetarkan jiwa! Apakah kita ingin berjumpa dengan Allah dalam keadaan hati yang bersih, penuh persiapan amal shalih? Atau kita datang dalam keadaan penuh dosa, lalai, dan merugi? Rindu pada surga haruslah lebih besar dari rindu pada dunia fana ini. Mari kita jadikan setiap ibadah kita, setiap pengorbanan kita, setiap langkah ikhtiar kita, sebagai bekal untuk meraih Jannah-Nya yang mulia. Jannah yang tidak pernah mata melihat, telinga mendengar, apalagi hati pernah membayangkannya keindahannya. Barangkali kita merasa ibadah kita belum seberapa, dosa kita terlalu banyak. Namun jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah. Ingatlah, bahkan dalam kesibukan dunia, Allah Maha Menerima taubat. Sesungguhnya Allah membuka tangan-Nya pada malam hari untuk menerima taubat orang yang berbuat dosa pada siang hari, dan Allah membuka tangan-Nya pada siang hari untuk menerima taubat orang yang berbuat dosa pada malam hari, sampai matahari terbit dari barat. (HR. Muslim). Marilah kita kobarkan semangat ini! Bukalah lembaran baru dalam hidup kita. Mari kita bermunajat, meratap, memohon ampunan dengan segenap kerendahan hati. Air mata taubat adalah permata yang paling berharga di hadapan Allah. Di saat-saat seperti ini, ketika hati kita tersentuh oleh keagungan Allah, oleh janji surga, dan oleh ancaman neraka, inilah saatnya kita merubah diri. Kobarkanlah api taubat dalam jiwa kita, agar padamlah api kemaksiatan. Nyalakanlah semangat cinta pada Allah, agar terbakarlah segala keraguan. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →